Teknologi Pencairan Gas Alam di Indonesia
Pencairan Gas alam merupakan salah satu upaya teknologi, untuk dapak mengangkut gas alam dari tepat produksi ketempat konsumen yang jaraknya jauh melebihi 5000 km menyebrangi samodra dalam bentuk cair. Prosesnya adalah melalui proses pendinginan, gas alam yang berupa gas methana ( CH4 ) akan mencair pada suhu - 156 derajat celcius dibawah nol pada tekanan 1 atm. Dengan demikian Volumenya akan mengecil seper enam ratus kalinya. Teknologi pencairan Gas alam di Indonesia diawalai dengan ditemukannya cadangan Gas Alam yang cukup besar di Aceh Sumatra dan di Muara Badak di Kalimantan Timur. Dengan demikian peluang Indonesia untuk memanfaatkan atas hasil sumber daya alam yang tadinya hanya digunakan secara terbatas, dan bahkan dibakar percuma , sekarang menjadi penghasil devisa negara. Peran Indonesia dalam memproduksi Gas alam Cair diawali dengan diresmikannya Kilang LNG di Bontang Kalimantan Timur pada 1 Agustus 1977 oleh Presiden kedua yaitu bapak Soeharto, yang kemudian disusul dengan Kilang LNG Arun di Aceh. Gas Alam cair di eksport ke Perusahaan Listrik di Jepang antara lain Chubu Electric Power Co,Kansai Electric Power Co, Osaka Gas Co, Toho Gas.
Proses Pencairan Gas di mulai dari feed gas yang berasal dari sumur sumur Gas di Muara Badak yang berjarak kurang lebih 60 KM dari Kilang dengan menghilangkan kandungan H2O, Co2, Hg dan impurities lainnya sampai batas derajat yang tidak akan mengggu dalam proses pencairan nantinya di peralatan yang di sebut Main Heat Exchanger. Dari sini gas alam cair di tampung di Tanki penampungan LNG sebelum di kapalkan ke Negara pembeli.
Saat ini Indonesia adalah sebagai penghasil LNG terbesar di dunia, dan sejak beroperasinya Kilang LNG Bontang banyak prestasi terutama prestasi keselamatan dan kesehatan kerja yang sering mendapatkan pengharhaan baik dari Pemerintah Indonesia maupun Badan/Institusi Luar seperti British safety council yang sering memberikan sword of honour bagi prestasi Keselamatkan Kerja Kilang Bontang. Sejak Beroperasi dari tahun 1977 sampai sekarang telah dikapalkan sekitar 7274 cargo ke berbagai negara pembeli yaitu Jepang, Korea Selatan, Taiwan China, USA, Rusia ( 1 std cargo = 125.000 m3 LNG ) datas ini diperoleh per akhir bulan September 2010 tahun lalu. Keberhasilan pengelolaan Kilang LNG Bontang ini tidak lepas dari peran seluruh karyawan yang terlibat dalam kegiatan bisnis. Karena untuk mengelola suatu kegiatan bisnis ada tihal yang perlu di pelihara, yaitu asset phisik, asset Human dan kultur, serta asset knowledge. Hal ini sesuai dengan visi, misi dari perusahaan pengelola yaitu mengoperasikan kilang secara aman, handal, dan effisien.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda